Matawanita.com
Matawanita.com

Hai semua pembaca setia blog Matawanita, kali ini postingan ini akan berbagi jawaban atas pertanyaan: Bagaimana filsafat ilmu mendasari etika dalam profesi dan profesionalisme?. Buat sahabat yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan lainnya boleh melihat di menu categori Tanya jawab ya atau klik link ini. Ayo kita lihat pembahasannya. Di halaman ini ada beberapa alternatif jawaban tentang pertanyaan ini. Silakan menelusuri lebih lanjut.

Pertanyaan

Bagaimana filsafat ilmu mendasari etika dalam profesi dan profesionalisme?

Advertisement

Jawaban

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: Bagaimana filsafat ilmu mendasari etika dalam profesi dan profesionalisme?

Jawaban:

Tugas Etika Profesi1. Hubungan Etika, Filsafat, dan dan ilmu pengetahuan : • Filsafat adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai interpretasi tentang hidup manusia. • Etika merupakan bagian dari filsafat, yaitu filsafat moral. – Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia • Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf.. • Kesimpulan : – suatu ilmu yang mempelajari perbuatan baik dan buruk manusia berdasarkan kehendak dalam mengambil keputusan yang mendasari hubungan antar sesama manusia. 2. Jika kita membahas tentang norma, etika, dan hukum tentunya kita tidak dapat melepaskannya dari segi moral. Dari arti kata, etika dapat disamakan dengan moral. Moral berasal dari bahasa latin mos yang berarti adat kebiasaan. Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tantang hubungan antara moral dan etika. Menurut Lawrence Konhberg terdapat hubungan antara moral dengan etika. Menurut Lawrence Konhberg pendidikan moral merupakan dasar dari pembangunan etika. Pendidikan moral itu sendiri terdiri dari ilmu sosiologi, budaya, antropologi, psikologi, filsafat,pendidikan, dan ilmu poitik. Pendapat Lawrence Konhberg berbeda dengan pendapat Sony Keraf. Soni Keraf membedakan antara moral dengan etika. Nilai-nilai moral mengandung nasihat, wejangan, petuah, peraturan, dan perintah turun temurun melalui suatu budaya tertentu. Sedangkan etika merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma manusia yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan perilaku hidup manusia. Karena etika dan moral saling mempengaruhi, maka keduanya tentu memiliki hubungan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma sebagai bentuk perwujudan dari etika dan moral yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Norma tersebut dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Meski tiap daerah memiliki norma yang berbeda-beda namun tujuannya tetap sama yaitu mengatur kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang mendukung dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan hukum merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai `penjaga` agar etika, moral, dan norma-norma dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Apabila terjadi pelanggaran terhadap etika,moral, dan norma maka hukum akan berperan sebagai pemberi sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa sanksi sosial sebagai akibat dari pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan sanksi hukum apabila norma-norma yang dilanggar juga termasuk dalam wilayah peraturan hukum yang berlaku. 3. 1. Hubungan antara ETIKA dan ADAT-ISTIADAT Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Adat istiadat dapat dimaksudkan dengan Etika perangai yang diartikan sebagai kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Etika perangai tersebut diakui dan berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. (Sumaryono (1995)) 2. Hubungan antara ETIKA dan AGAMA Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia. ( Etika Profesi, 2006). 4. Kejahatan komputer, Cyber ethic, E – commers, Pelanggaran Hak Atas Intelektual, Tanggungjawab Profesi 5 . empat perspektif pendekatan, yaitu : 1.pendekatan berorientasi filosofis. Ada 3 hal pokok yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat profesionalisme : – Pendekatan lambang profesional Lambang profesional yang dimaksud antara lain seperti sertifikat, lisensi, dan akreditasi. – Pendekatan sikap individu Pendekatan ini melihat bahwa layanan individu pemegang profesi diakui oleh umum dan bermanfaat bagi penggunanya – Pendekatan electic Pendekatan ini melihat bahwa proses profesional dianggap sebagai kesatuan dari kemampuan, hasil kesepakatan dan standar tertentu.

Nah itu dia pembahasan atas pertanyaan: Bagaimana filsafat ilmu mendasari etika dalam profesi dan profesionalisme?. Semoga bermanfaat ya guys. Jangan lupa like dan share blog Matawanita di bawah ya. Thanks Sekian tanya-jawab mengenai Bagaimana filsafat ilmu mendasari etika dalam profesi dan profesionalisme?, semoga dengan kumpulan jawaban ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan kamu.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini